Jumaat, 20 November 2009

Novel Laskar Pelangi e-book

oleh Prima Hariyanto

Raymond Williams dalam “The Analysis of Culture” mengungkapkan tiga ketegori dalam mendefinisikan kebudayaan. Pertama, kebudayaan merupakan proses atau ketetapan manusia yang sempurna pada bagian kebenaran tertentu atau nilai-nilai universal. Proses ini merupakan penemuan dan gambaran di dalam kehidupan dan pekerjaan dari semua nilai. Kedua, kebudayaan diartikan sebagai manusia yang bekerja dengan intelektualitas, daya khayal, ide, dan pengalaman yang bermacam-macam dalam ingatan mereka. Kegiatan kritik berlangsung secara alami, gagasan dan pengalaman digambarkan serta dinilai. Ketiga, kebudayaan merupakan gambaran perjalanan fakta kehidupan yang diungkapkan dengan makna pasti dan nilai, tidak hanya dalam seni dan belajar tetapi juga dalam institusi dan tingkah laku yang luar biasa. Klarifikasi arti dan nilai dalam fakta kehidupan, fakta budaya; misalnya analisis dalam kritik sejarah bekerja dengan analisis relasi dan tradisi serta analisis elemen dalam perjalanan kehidupan. Kita dapat membedakan kebudayaan tinggi (high culture) dan kebudayaan populer (popular culture) sebagai ranah studi budaya (cultural studies) karena masing-masing kebudayaan tersebut memiliki ciri-ciri yang membedakannya. Kebudayaan tinggi berasal atau diciptakan oleh para petinggi atau pejabat (dahulu kerajaan atau keraton), sedangkan kebudayaan populer berasal dari rakyat biasa. Kebudayaan tinggi tentu saja hanya dapat dinikmati oleh para petinggi di keraton saja (sekarang, masyarakat lapisan atas), sedangkan kebudayaan populer dapat dinikmati secara massal oleh masyarakat. Kebudayaan tinggi bersifat sakral (pelakunya adalah orang-orang khusus dan pilihan), mewah, dan perlu biaya yang tak sedikit, sedangkan kebudayaan populer sederhana dan tak membutuhkan banyak biaya karena dilakukan dan dinikmati oleh rakyat biasa. Kebudayaan populer juga diciptakan untuk tujuan komersial, sedangkan kebudayaan tinggi diciptakan hanya untuk dinikmati saja, tidak untuk tujuan komersial. Kebudayaan tinggi hanya dinikmati oleh kalangan lapisan atas seperti seniman besar, sastrawan, pejabat, petinggi negera, dan sebagainya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebudayaan populer (popular culture) merupakan kebudayaan yang diciptakan oleh rakyat biasa dengan sederhana dan ditujukan untuk tujuan komersil sehingga dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Kebudayaan populer (popular culture) merupakan salah satu bagian dari ranah studi budaya (cultural studies) karena kebudayaan populer juga bagian dari budaya yang memperkaya khasanah kebudayaan masyarakat mana pun. Bahkan, dapat dikatakan bahwa kebudayaan populer memiliki cakupan yang lebih luas daripada kebudayaan tinggi. Kebudayaan populer dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, sedangkan kebudayaan tinggi hanya dapat dinikmati oleh masyarakat lapisan atas saja. Namun demikian, kebudayaan populer sering dianggap sebagai parasit bagi kebudayaan tinggi. Hal ini disebabkan oleh jangkauan dan biaya yang harus dikeluarkan untuk menikmati kebudayaan populer jauh lebih murah daripada kebudayaan tinggi. Oleh karena itu, masyarakat lebih memilih kebudayaan populer daripada kebudayaan tinggi. Kebudayaan populer diciptakan dari masyarakat yang terkena dampak kapitalisme dan demokrasi. Kebudayaan ini sering disebut pula sebagai budaya pop (pop culture). Kebudayaan populer diciptakan dengan spontanitas oleh, dari, dan untuk dinikmati oleh rakyat lapisan bawah. Kebudayaan populer bersifat kasar, tetapi tidak menampakkan kevulgaran. Sifat kasar inilah yang digunakan untuk menutupi kevulgaran budaya ini. Kebudayaan populer sering pula dianggap sebagai kebudayaan dengan selera rendah dan merupakan sisa-sisa dari kebudayaan tinggi. Kebudayaan populer hanya dianggap untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya (komersil). Oleh karena itu, kebudayaan populer sering disebut sebagai budaya massa yang hanya menekankan aspek kemasan (kitsch), tanpa mempedulikan isi dari kebudayaan tersebut. Kaplan menganggap bahawa kebudayaan populer tidak buruk. Dia menganggapnya sebagai seni menengah yang dapat membedakaannya dengan kebudayaan tinggi. Kebudayaan populer disebut sebagai escapist entertainment yaitu membuat penikmat budaya ini merasa terhibur sehingga seolah-olah lari dari kenyataan yang ada. Kebudayaan populer merupakan hasil dari masyarakat modern (kapitalisme dan demokrasi). Kebudayaan ini tidak hanya dianggap seni, tetapi juga sebagai barang komoditi yang mampu menghasilkan keuntungan yang besar. Kebudayaan populer bukan satu-satunya kebudayaan, tetapi kebudayaan ini memiliki sifat yang universal. Dalam perkembangannya, kebudayaan populer juga memanfaatkan kebudayaan rakyat (folks culture) seperti musik, teater, dan tari tradisional. Kebudayaan rakyat (folks culture) diciptakan oleh masyarakat tradisional yang masih menganut paham feodalisme. Hal ini berbeda dengan kebudayaan populer yang berasal dari masyarakat modern. Kebudayan rakyat telah ada sejak lama dan telah mendarah daging di masyarakat. Oleh karena itu, kebudayaan populer sengaja memanfaatkan kebudayaan rakyat untuk mengembangkan kebudaannya serta memperluas jangkauannya sehingga tujuan komersialnya semakin mudah didapat. Sastra populer tak dapat dilepaskan dari kebudayaan populer karena ia lahir dari semangat kebudayaan populer. Sastra populer memiliki ciri yang khas yang membedakannya dengan apa yang dianggap sebagai sastra tinggi, seperti mengharamkan makna ganda, menghindari kerumitan dengan cara penyelesaian masalah dengan mudah, penokohan stereotipe dengan sistem bintang, dan sebagainya. Salah satu karya sastra populer yang saat ini sedang banyak diperbincangkan dan dinikmati masyarakat adalah novel Laskar Pelangi.
Laskar Pelangi merupakan novel yang berlatar kehidupan masyarakat Melayu Belitong sekitar tahun 70-an. Sampai saat ini Laskar Pelangi terus dicetak ulang, bahkan disebut sebagai karya sastra terlaris sepanjang sejarah Indonesia. Buku ini juga menjadi perbincangan banyak orang karena mengangkat kisah yang jarang diangkat serta mampu menarik perhatian banyak orang.

Laskar Pelangi mengisahkan anak-anak Belitung yang masih memiliki impian, harapan, dan cinta. Sekolah mereka, SD Muhammadiyah, merupakan sekolah yang terancam bubar jika jumlah murid tahun ajaran baru tidak mencapai sepuluh orang. Kehadiran anak kesepuluh disambut suka cita oleh semua orang. Ini merupakan awal mencapai mimpi-mimpi mereka. SD Muhammadiyah mengajarkan banyak hal kepada anak-anak Laskar Pelangi. Tiadanya fasilitas sekolah yang memadai, tak membuat mereka kehilangan kreativitas. Mereka terus belajar, berkembang, dan semakin dewasa. Hari-hari yang mereka lalui pun membuat persahabatan mereka semaikn erat. Laskar Pelangi merupakan potret masyarakat Belitung yang bagai dua sisi mata uang. Sebagian dari mereka dapat menikmati hasil timah yang dikelola oleh PN (Perusahaan Negara) Timah. Sebagian lagi harus bekerja keras agar dapat bertahan hidup. Dalam keadaan seperti inilah, di tengah kekayaan alam Belitung dan kemiskinan, anak-anak Laskar Pelangi berusaha meraih mimpi mereka. Novel ini banyak mengandung nilai-nilai moral yang diperlukan oleh kita saat ini. Untuk dapat mewujudkan cita-cita dan menjadi orang yang berguna, memang tak harus belajar di sekolah yang mahal dengan segala kelengkapan fasilitasnya yang modern. Anak-anak pun dapat belajar dari alam dan lingkungannya serta dapat maju dalam segala kekurangannya seperti anak-anak Laskar Pelangi. Namun, bukan berarti SD Muhammadiyah lain di negeri kita dibiarkan apa adanya. Masih banyak sekolah yang butuh perhatian lebih. Alangkah baiknya jika kita meningkatkan sarana dan prasarana sekolah untuk menciptakan anak-anak bangsa yang cerdas. Dapat dikatakan bahwa novel Laskar Pelangi merupakan salah satu novel populer Indonesia. Novel Laskar Pelangi banyak menginspirasi masyarakat terutama penulis muda yang ingin menyalurkan bakatnya. Novel ini banyak ditiru gaya dan temanya oleh penulis lain. Dengan lahirnya Laskar Pelangi, banyak masyarakat Indonesia terkena demam novel. Banyak orang yang tiba-tiba suka membaca novel dan karya sastra. Menurut penulis Laskar Pelangi, Andrea Hirata, pembaca sastra kita tidak lebih dari 150 ribu orang.[1] Mereka adalah orang-orang yang benar-benar mengamati perkembangan sastra, membaca resensi, dan menyediakan dana khusus untuk membeli novel. Selain mereka, orang yang membeli buku ini bukanlah pembaca sastra. Mereka membaca karena terimbas oleh satu sensasi terutama oleh media. Pembaca seperti ini selalu menganggap buku dan pengarangnya sebagai satu paket yang tak terpisahkan. Salah satu ciri novel populer adalah penokohan stereotipe dengan sistem bintang. Dalam Laskar Pelangi, tokoh Ikal dan kawan-kawan yang tergabung dalam Laskar Pelangi merupakan tokoh yang selalu diidolakan. Yang menjadi bintang dalam Laskar Pelangi adalah Ikal dan Lintang. Ikal sebagai pencerita yang selalu menonjol dan mendapat porsi bercerita yang lebih. Lintang adalah sosok yang jenius di antara teman-temannya dalam lingkungan masyarakat desa yang kekurangan. Dia adalah sosok pekerja keras. Hidup kekurangan, tetapi tak pernah mengeluh sekolah meskipun setiap hari harus menempuh jarak 80 km untuk sampai ke sekolah. Belum lagi jika musim hujan tiba dan hadangan buaya dalam perjalanan berangkat ke sekolah. Dengan keadaan seperti itu, ia tetap bertahan dan menjadi anak yang jenius. Ia putus sekolah karena harus menggantikan peran ayahnya yang meninggal dunia.
Novel Laskar Pelangi, memiliki pesan moral yang tersirat tentang kebersamaan, kepatuhan, keteguhan, dan segala aspek kehidupan orang-orang yang selama ini dianggap sebagai korban ketamakan dari “yang berkuasa di suatu daerah.” Di sini juga diceritakan tentang perjuangan SD Muhammadiyah yang membawa generasinya ke arah yang Islami, diridhoi Allah SWT, terutama dalam hal pola pikir, akhlak, budi pekerti. Dengan semangat dan usaha yang kuat, segala apa yang ingin dicapai dapat terwujud.

Keadaan masyarakat Belitung yang memprihatinkan tidak menyurutkan semangat sebagian anak-anak Belitung (Laskar Pelangi) untuk mengapai cita-cita. Hal ini dapat terlihat dari keinginan mereka untuk menunjukkan eksistensi mereka. Contohnya dalam lomba cerdas cermat dan festival 17 Agustus. Setelah sukses dengan novelnya, Miles Films dan Mizan Production menggarap novel ini menjadi film dengan judul yang sama. Hal ini merupakan salah satu tanda bahwa novel Laskar Pelangi merupakan karya sastra populer, yaitu direproduksi melalui berbagai media. Dengan cara seperti ini, diharapkan kisah ini dapat dinikmati oleh masyarakat luas, bukan hanya masyarakat penikmat sastra. Selain film, salah satu puisi dalam novel ini juga direproduski menjadi sebuah lagu dengan judul yang sama pula. Dengan demikian, kisah ini dapat dinikmati lewat tiga media, yaitu novel (tulis), film (audio visual), dan lagu (audio). Seperti novel populer lainnya, novel ini diakhiri dengan menghindari kerumitan dengan cara penyelesaian masalah yang mudah. Di akhir novel dikisahkan bahwa anggota Laskar Pelangi telah meraih impian mereka. Ada yang sudah sukses dengan pekerjaannya, ada yang menikah dengan teman sesama Laskar Pelangi, dan sebagainya. Di sinilah letak keinginan penulis untuk memanjakan selera pembaca. Pembaca biasanya menginginkan ending yang bahagia dan membuat sang tokoh hidup bahagia pula.

Lirik Laskar Pelangi (Nidji, Ost. Laskar Pelangi) Mimpi adalah kunci Untuk kita menaklukkan dunia Telah hilang Tanpa lelah sampai engkau meraihnyaLaskar pelangi Takkan terikat waktu Bebaskan mimpimu di angkasa Raih bintang di jiwaMenarilah dan terus tertawa Walau dunia tak seindah surga Bersukurlah pada yang kuasa Cinta kita di duniaSelamanya… Cinta kepada hidup Memberikan senyuman abadi Walau ini kadang tak adil Tapi cinta lengkapi kita Laskar pelangi Takkan terikat waktu Jangan berhenti mewarnai Jutaan mimpi di bumi Menarilah dan terus tertawa Walau dunia takseindah surga Bersukurlah pada yang kuasa Cinta kita di dunia Selamanya…

====================================================================
Daftar Acuan Arnold, Matthew. 2008. “Culture and Anarchy: An Essay in Political and Social Criticism,” dalam http://www.enotes.com/, diunduh 24 Desember 2008. Hirata, Andrea. 2007. Laskar Pelangi. Yogyakarta: Bentang Pustaka. Kaplan, Abraham. 1966. “The Aesthetics of the Popular Arts,” dalam Journal of Aesthetics (Spring). New York: MCGrow-Hill Book Company. Triwikromo, Triyanto. 2008. “ Andrea Hirata: Kita dalam Krisis Keteladanan,” dalam Suara Merdeka, 21 september. Williams, Raymond. 2008. “Theories of Culture , Raymond Williams, The Analysis of Culture,” dalam http://internetvandor.freeblog.hu/archives/, diunduh 24 Desember 2008.
From farid@abe.technology and networking services
Download LaskarPelangi ---> ziddu

0 ulasan:

Catat Ulasan

Pengikut